Kehidupan manusia di dunia ini ibarat sebuah perjalanan panjang menuju satu tujuan kesempurnaan. Perjalanan panjang dengan satu tujuan kesempurnaan tersebut akan menghabiskan segenap tenaga kita untuk berusaha sebesar-besarnya mengumpulkan bekal. Kesempurnaan dengan hasil yang akan menuai penyesalan atas sedikitnya bekal yang terkumpul. Atau bahkan tidak ada sama sekali.
Dalam rute perjalanan, akan banyak hal yang akan kita temui. Kita akan ditempa dengan berbagai macam tantangan kehidupan. Menuntun kepekaan menjadikan semua perbuatan bernilai bekal amal jariah untuk tujuan kehidupan sesungguhnya, di Akhirat.
Satu hal yang tabu dalam perjalanan manusia ini banyak yang terlelap dengan kenikmatan semu dalam perjalanan. Melupakan tujuan kesempurnaan yang sesungguhnya. Menganggap kehidupan dunia adalah segala-galanya dan takut sekiranya perjalanan itu telah sampai dibatas pintu terakhir, kematian.
Sungguh, kematian adalah gerbang utama menuju kesempurnaan itu. Menjadikan kematian sebagai peringatan adalah tuntunan Rasul dari zaman dahulu dan tetap akan abadi sampai sekarang. Banyak faedah dari kematian yang bisa kita ambil. Bukan untuk siapa, tapi untuk kita sendiri. Untuk kembali merenung dan meresapi tujuan hidup yang sesungguhnya.
Perbanyaklah berbekal untuk kehidupan akhirat, serta jangan pernah takut dengan kematian. Kematian itu indah dan menyenangkan. Di dunia, nikmatnya tidur tak ada yang meragukannya. Banyak orang yang akan rela menghabiskan waktu dan harta bendanya demi ingin merasakan nikmatnya tidur. Mengapa tidak dengan kematian?.
Padahal mati pun demikian. Tidur dan kematian adalah saudara. Tidur ibarat kematian kecil, dan kematian ibarat tidur panjang. Certia tentang nikmatnya buaian alam mimpi sewaktu kita tidur akan nyata di Alam kesempurnaan setelah merasakan kematian. Indah nan elok tak terkirakan. Bahkan lebih indah dari tidur.
Mungkin karena tidak adanya saksi yang telah mengalami, datang menceritakan kesempurnaan itu. Makanya kita terkadang menganggap sekarang, dunia adalah tempat terindah. Ibarat kenikmatan tidur dengan buaian mimpi indah yang indah untuk diceritakan. Tapi, nikmatnya bertatap muka dengan Allah s.w.t., surga dan bidadari sungguh nyata. Al- Quran dan hadits Rasulullah s.a.w, sangat lebih dari cukup sebagai penguat, saksi akan indahnya kesempurnaan itu. Bukankah demikian adanya?.
Kehidupan dunia menuju kesempurnaan akhirat oleh Prof. DR Quraiys shihab digambarkan ibarat anak ayam yang keluar dari cangkangnya. Sempit dunia laksana cankang telur keluar ke alam yang lebih besar lagi, Akhirat. Tersadar ternyata betapa kecil kehidupan dunia ini. Terasa ketika kita tidak di Dunia lagi.
Tak salah jika mengatakan hidup dan mati sebenarnya adalah satu. Kehidupan dan kematian hanyalah merupakan perbedaan istilah kata masing-masing. Hidup untuk alam sebelum kematian, dan Mati untuk alam sesudah kehidupan. Perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Intiqalun min makan ila makanin akhar dari alam yang penuh dengan kekurangan menuju kesempurnaan yang hakiki. Tujuan akhir dari perjalanan panjang kehidupan.
Mati adalah sebuah kepastian. Takut akan sebuah kepastian adalah sebuah kebodohan. Tegarkan diri menjadikan sebuah kepastian pasti dengan kebahagiaan adalah yang harus di lakukan. Mengumpulkan segala kebutuhan menuju kesempurnaan. Meuju hari penyesalan selamanya akan ada di setiap insan manusia.
Kematian itu bukan karena roh kita yang mati, tapi karena tubuh kita yang sudah tidak layak ditempati oleh roh. Ibarat penghuni rumah yang lari karena rumahnya tak layak pakai lagi. Ketidal layak kan itu tidak mengenal istilah antri. Kebanyakan datang di waktu tua. Tapi tidak sedikit orang yang mati di usia muda. Bersiaplah selalu.
Ini bukanlah kampanye untuk mati. Menlainkan untuk mengingatkan, semoga kita tidak telelap dalam perjalanan hidup ini, sehingga melupakan tujuan utama. sungguh kematian itu adalah sebuah kesempurnaan hidup. Ingatlah, betapa indahnya bertemu sang pencipta. Keindahan yang tiada tara itu hanya akan kita rasakan setelah mengalami pintu kematian.
Kematian hanyalah sebuah musibah bagi orang yang ditinggalkan. Tapi, belum tentu bagi si mayit. Orang beriman akan bahagia dengan kematian karena rasa rindunya akan segera terobati. Bak kerinduan sang perantau, terobati ketika ia kembali ke kampung halamannya. Kerinduan kepada Allah s.w.t adalah puncak dari segenap kerinduan dunia. Hanya terobati ketika kita bertatap dengan Allah s.w.t. Sebuah nikmat yang tiada terkira. Lalu, masikah kita takut akan kematian?
Akhirnya, semoga kita menjadikan hidup di dunia ini ladang amal yang akan kita petik halisnya dikemudian hari. Menyadari kita hanya dalam perantauan. Menghadirkan kerinduan kepada Allah s.w.t. sehingga, kita tidak lagi takut dengan kematian. Karena mati adalah kesempurnaan.