Pak Imam dan “Kehancuran” Amerika

Ditulis: 17 September 2008

Sekitar tujuh tahun belakangan ini (2001-2008), Amerika Serikat betul-betul dilanda bencana secara bertubi-bertubi. Belum pulih dari kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh suatu bencana, bencana lain muncul dan menimbulkan kerugian yang tak kalah hebatnya. Tampaknya, negeri paman Sam itu, memang sedang di “ambang pintu” “kehancuran”.

Bukan hanya alam yang sedang “menghakimi” Amerika. Apa yang menimpa negara demokrasi terbesar kedua itu, saat ini, sangat sejalan dengan sebuah pepatah kuno, “sudah jatuh ketiban tangga pula”. Bencana yang menghantam negeri Abraham Lincoln tersebut, memang meliputi hampir semua sektor kehidupan. Hanya skala dan dampaknya yang berbeda-beda.

Pada 11 September 2001, Amerika Serikat dihantam oleh serangan teroris yang sangat dahsyat. Serangan itu tak hanya memporak-porandakan gedung gembar WTC. dan menelan korban ribuan jiwa, tapi juga memiliki dampak jangka panjang dan mendalam bagi rakyat dan pemerintah Amerika.

Dengan dalih serangan 11 September itulah, pemerintah Amerika Serikat, di kemudian hari, terlibat dalam peperangan yang berkepanjangan, dan tentu menelan biaya yang sangat besar. Bagi rakyat Amerika sendiri, peristiwa tersebut telah menyisakan trauma yang sangat mendalam.

Gedung kembar WTC. belum selesai dibangun kembali, dan trauma rakyat Amerika belum terobati, seakan tak mau kalah oleh aksi para teroris, alam mengamuk dan meluluhlantakkan New Orleans, Mississippi, Alabama, Florida dan negara-negara bagian lainnya.

Selama hampir satu minggu (23-30 Agustus 2005), penduduk negara-negara bagian tersebut menyaksikan amukan dan keganasan alam; hurricane Katrina (badai Katrina) menghancurkan rumah-rumah mereka, bersama dengan ribuan jiwa yang melayang (1836 jiwa).

Dampak dari bencana yang juga mengakibatkan kerugian materi sekitar 80-an milyar Dollar itu, masih terasa sampai saat ini; pasokan listrik yang belum memadai, pengungsi yang belum semuanya kembali ke tempat asal mereka, dan tentu dampak psikologis yang tak bisa disepelekan.

Meskipun Hurricane Katrina (badai Katrina) itu hanya berlangsung sekitar satu minggu, tapi dampak yang telah ditimbulkannya memakan waktu bertahun-tahun untuk bisa dipulihkan kembali.

Bukan hanya Katrina yang membuat Amerika bertekuk lutut, tiga tahun kemudian (2008), badai Gustav (31 Agustus) dan Ike (13 September), juga menerjang beberapa negara bagian Amerika.

Tidak hanya sampai di situ. Bukan hanya teroris dan alam yang mendatangkan “mimpi buruk” bagi Amerika.

Beberapa hari terakhir, bagi yang terbiasa mengikuti perkembangan ekonomi dunia, pasti akan mengetahui bahwa Amerika saat ini juga tengah dilanda krisis ekonomi yang sangat parah. Mulai dari krisis kredit perumahan (Subprime Mortgage Crisis), pasar modal ambruk (Wall Street), bank-bank pengkreditan pailit (Freddie Mae&Freddie Mac, Lehman Brothers, City Group), perusahaan-perusahaan asuransi keteteran (AIG), hingga utang yang semakin menanjak (sekitar 9 triliiun Dollar).

Pokoknya, negara kapitalis terbesar itu sedang kerepotan menghadapi multi-krisis dan multi-bencana, yang kesemuanya membutuhkan perhatian penuh, kecerdasan, dan resources (sumber daya) yang tidak sedikit dari pemerintah dan seluruh rakyat Amerika.

Melihat bencana beruntun yang menimpa Amerika Serikat itu, kita patut berpikir dan bertanya-tanya, apa yang salah dengan negara yang memiliki 725 pangkalan bersenjata di seluruh dunia itu? Kemana agen-agen intelejen CIA dan FBI ketika peristiwa 11 September direncanakan?

Kemana semua pakar metereologi dan geo-fisika sebelum badai Katrina datang? Mana prakiraan-prakiraan cuaca yang, katanya, relatif bahkan sangat akurat itu?

Apa yang terjadi dengan pondasi perekonomiannya yang selama ini diakui sangat kokoh? Kemana semua ahli ekonomi yang semestinya muncul sebagai dewa penyelamat pada saat-saat seperti ini?

Bagi seorang imam dan khatib di sebuah mesjid di Kairo, yang biasanya saya tempati shalat Jum’at pada awal-awal tahun 2000, jawaban atas itu semua, sangatlah sederhana. Baginya, apa yang dialami Amerika itu adalah, “mimpi yang menjadi kenyataan”, atau “doa-doa yang terkabulkan”. Dia pasti tidak mau repot-repot bertanya dan memikirkan alasan-alasan ekonomi, pertimbangan-pertimbangan finansial, dan alasan-alasan logis, apalagi ilmiah, lainnya. Baginya, apa yang terjadi di Amerika adalah “ganjaran” atau “balasan” atas “dosa-dosa” yang telah dan sedang Amerika perbuat terhadap orang-orang Islam di seluruh dunia. Baginya, itu semua adalah wajar dan sudah merupakan konsekuensi logis.

Ketika shalat Jum’at di mesjid yang dia imami itu, saya tidak jarang mendengar dia berdoa: “…Ya Allah, hancurkanlah musuh-musuh agamamu ini. Hancurkan Amerika dan sekutu-sekutunya. Hancurkan Israel dan orang-orang yang mendukungnya…”

Kini “kehancuran” sudah mulai merangkak memasuki Amerika. Tetapi, pertanyaannya, apakah dengan “kehancuran” mereka “kita” secara otomatis akan “bangkit”? Apa dampak positif yang akan kita peroleh dari “kehancuran” Amerika? Apakah dengan semua bencana itu, Amerika betul-betul akan “hancur” dan “runtuh”?

Bercermin pada globalisasi yang telah diperjuangkan Amerika selama sekitar 20 tahun, kita punya banyak alasan untuk sangsi akan “kehancuran” Amerika, dan “kebangkitan” “kita” sebagai konsekuensinya.

Selain itu, mencermati cara berpikir, semangat belajar, pola hidup, etos kerja, dan sistem pemerintahan “negara-negara Islam”, kita punya “amunisi” tambahan untuk mempertanyakan “terkabulnya” do’a-do’a pak imam tadi.

Amunisi kesangsian itu akan semakin berlipat ganda kalau kita menengok kembali ke dalam sejarah. Dalam sejarah, kita bisa membaca “kehancuran” Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Portugal dan negara-negara adidaya abad kesembilan belas lainnya. Apakah mereka betul-betul “hancur”? Seperti apa “kehancuran” mereka? Dan, yang terpenting, kenapa “kita” belum bangkit juga?

Mendengar doa-doa imam mesjid itu, saya selalu bertanya pada diri sendiri: haruskah kita bangkit di atas “mayat” orang lain? Haruskah orang lain hancur baru kita bisa maju?

Suatu saat kelak, saya akan menanyakan ini kepada pak imam.

Tamat.

Oleh. Usman Jide, Lc.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.