Konsep Belajar Cepat dan Menyenangkan

Sebagian besar dari kita,saya dan agan,pasti pernah merasa jenuh ketika belajar. Baik itu saat sekolah,maupun ketika sudah kuliah. Mendekati ujiankah, kompetisi, atau seleksi nasional, dan lainnya. TS sempat berpikir,bagaimana cara belajar tapi ga membosankan? belajar tapi menyenangkan?

Salah satu konsep belajar cepat yang bagus dan tentunya juga menyenangkan adalah konsep MASTER yang terdapat dalam buku ‘Accelerated Learning for the 21st Century’.

Istilah MASTER di sini adalah singkatan dari Motivating your mind, Acquiring the information, Searching out the meaning, Triggering the memory, Exhibiting what you know, dan Reflecting what you’ve learned.

Motivating Your Mind
(Memotivasi Pikiran)
Langkah pertama dalam belajar cepat adalah motivasi. Ini penting sekali. Berapa banyak orang yang berusaha untuk belajar tanpa motivasi? Mereka menganggap belajar sebagai suatu bentuk “penderitaan”. Dengan sikap seperti ini bisa dibilang secara bawah sadar otak akan menolak informasi yang masuk karena dianggap negatif!

Jelas saja kita jadi sangat sulit belajar. Bandingkan dengan orang yang termotivasi, yang menganggap belajar itu seru dan mengasyikkan. Secara bawah sadar otak akan dengan senang hati mempersilakan informasi untuk masuk.

Apa agan org yg susah memotivasi diri untuk belajar?
Perbaiki niat dan tujuan agan dalam belajar,dan paksakan diri agan untuk kebaikan agan.

Acquiring the Information
(Memperoleh Informasi)
Ada tiga gaya belajar utama, yaitu visual (melalui penglihatan),auditori (melalui pendengaran), dan kinestetik (melalui tindakan).Kita akan lebih cepat menangkap informasi kalau kita belajar sesuai dengan gaya belajar kita. Oleh karenanya kita perlu mengenali gaya belajar yang cocok untuk kita lalu mempraktekkannya. Hasilnya kita akan lebih cepat menangkap informasi.

Kenali dan dalami gaya belajar anda.

Searching Out the Meaning
(Menyelidiki Makna)
Sekedar membiarkan informasi masuk sama sekali tidak cukup. Kita harus berusaha untuk mendapatkan makna dari informasi itu. Ini sama seperti mencerna informasi yang masuk sampai memahami hakikatnya luar dalam. Jadi bukan hanya menghafalkan fakta, tapi terus maju sampai memahami konteksnya dan penerapannya untuk hal-hal lain. Berapa banyak orang yang hanya berusaha menghafal fakta tanpa memahami maknanya ?

Masih menghapal dari pada memaknai?

Triggering the Memory
(Memicu Memori)
Memahami makna merupakan hal yang sangat penting, tapi kita juga harus mampu mengingat fakta. Banyak orang yang punya daya ingat luar biasa. Contohnya ada orang Jepang yang menghafalkan angka pi sampai ribuan angka di belakang koma ! Ck…ck… (biasanya kita hanya hafal dua angka yaitu “14? dari “3.14?). Ada banyak teknik yang bisa memudahkan kita mengingat fakta. Singkatan seperti “MASTER” merupakan salah satunya. Akan jauh lebih mudah untuk mengingat enam langkah Accelerated Learning kalau kita memakai singkatan “MASTER”.

Asah kemampuan otak agan dengan hal-hal sederhana. Bisa dengan mengisi TTS,atau sekedar menghapal nomor kontak teman.

Exhibiting What You Know
(Memamerkan Apa yang Agan Ketahui)
Memamerkan di sini bukan berarti sok tahu. Yang dimaksud adalah kita harus berusaha membagikan ilmu kita ke orang lain. Saat membagikan ilmu ke orang lain kita justru akan mendapatkan lebih banyak lagi! Misalnya seorang guru kadang lebih cepat paham dan menguasai materi pelajarannya tentang materi pelajarannya setelah dia mengajarkannya pada murid-muridnya.

Pernah mencoba? Ajarkan ilmu yg agan dapat,niscaya agan akan terus mengingat ilmu itu.

Reflecting What You’ve Learned
(Merefleksikan Bagaimana Belajar)
Nah, inilah langkah terakhir dalam konsep MASTER. Kita mesti mengevaluasi cara belajar kita. Mengapa? Sebab setiap orang punya cara belajar yang unik yang berbeda dengan orang lain. Kita mesti mengembangkan gaya belajar pribadi yang paling cocok dengan kita. Dan ini tentu tidak bisa dicapai dalam waktu semalam. Kita harus mencoba, mengevaluasi, memperbaiki apa yang kurang, lalu mencoba lagi, dan seterusnya.

Dengan terus mengevaluasi perlahan-lahan gaya belajar kita akan semakin tajam dan cocok dengan kita.

Iklan

VERIFIKASI KEBENARAN AGAMA

Jika anda sekarang sedang bergosip tentang saya misalnya, dan anda berkata kepada teman bicara anda, “si Awal sudah punya pacar belum yah..?”. Atau tiba-tiba saya menulis status, “saya sedang pacaran dengan Yeni”, misalnya. Untuk mengetahui kebenaran dari status saya, maka anda dapat dengan mudah untuk mencari kebenaran statemen yang saya lontarkan dengan menggunakan metode verifikasi terhadap statemen yang saya keluarkan. Jika statemen saya itu benar, dalam arti saya sekarang sedang pacaran dengan Yeni, maka statemen saya adalah benar, namun jika yang terjadi sebaliknya, maka statemen saya salah. Anda dapat mencari kebenaran statemen saya dengan menguaraikan aspek atomik yang ada dalam pernyataan itu. Apakah pernyataan saya merupakan ungkapan dari sebuah refleksi faktual, ataukah hanya merupakan ungkapan kebohongan belaka. Hal inilah yang dinamakan konsep verifikasi positivisme logis yang dikembangkan oleh Vienna Circle, dan dipermatang oleh Alfred Jules Ayer.
Secara umum, konsep verifikasi yang diusung oleh positivisme logis menekankan pada kemampuan sebuah preposisi untuk diverifikasi atau dibuktikan secara empirik. Statemen saya yang mengatakan, bahwa saya saat ini sedang berpacaran dengan Yeni, hanya dapat bermakna, jika dalam statemen tersebut terkandung sebuah kemungkinan bahwa pernyataan itu dapat dibuktikan dengan konsep verikasi. Dengan kata lain, sebuah statemen yang benar adalah adanya kesesuaian antara pernyataan atau statemen dengan realitas faktual yang mengada.
Sebuah pernyataan dikatakan bermakna dan benar, jika pernyataan tersebut memenuhi formulasi logis yang dapat dibuktikan secara empirik. Aturan formulasi logis sebuah bahasa, bersandar pada filsafat atomisme logis yang digusung oleh Bertrand Russel. Menurut Russel ada suatu kalimat yang memiliki struktur gramatikal yang sama namun memiliki formulasi logis yang berbeda. Misalnya kalimat, ‘Awal pacaran dengan bidadari dari syurga’ dan ‘Awal pacaran dengan gadis dari Sleman’, secara gramatikal keduanya sama, namun secara formulasi logis kedua pernyataan tersebut memiliki kontruksi yang berbeda. Pada pernyataan yang pertama, bersifat fantatis dan yang kedua bersifat real. Dengan memahami formulasi logis dari suatu ungkapan, maka kita dapat melakukan sebuah differensiasi dari formula logis gramatikal suatu ungkapan dengan bentuk logis semantiknya. Pentingnya memberikan differensiasi antara formulasi gramatikal dan formulasi logis, nantinya akan memberikan kemudahan untuk melakukan sebuah analisis terhadap sebuah pernyataan, preposisi dan bahkan barangkali sebuah dogma. Sebuah preposisi dan pernyataan dapat diverifikasi, apakah pernyataan tersebut bermakna atau tidak. Dari konsep atomisme logis yang diperkenalkan oleh Russel yang akhirnya mengilhami kaum positivisme logis untuk lebih mengembangkan konsep atomisme logis tersebut ke dalam konsep verifikasi.
Saya tidak akan mengindahkan apakah konsep verifikasi tersebut wajar untuk digunakan dalam menakar kebenaran sebuah agama atau tidak. Atau apakah konsep verifikasi tersebut tak disetujui oleh sebagian kalangan, misalnya karya terakhir dari Wittgenstein yang berjudul Philosophical Investigation. Dalam karya ini, dapat dikatakan Wittgenstein murtad dari pemikirannya terdahulu yaitu ajaran atomisme logis, dan menggusung pemikiran baru, yaitu konsep ordinary language dan language games. Bukannya saya bersikap arogan, akan tetapi saya melihat ada sebuah konsep yang diusung oleh Russel, saya anggap tepat untuk mengklarifikasi kebenaran sebuah agama. Konsep tersebut adalah konsep egocentric. Hal tersebut didasari dari sebuah anggapan, bahwa dalam mengalami pengalaman empirik, terdapat pengalaman-pengalaman yang tidak dapat dibagi secara teoritik dengan orang lain. Pengalaman-pengalaman tersebut merupakan sebuah persesuaian antara realitas faktual dunia dan bahasa yang digunakan untuk mengungkap pengalaman tersebut. Namun perlu ditekankan di sini, bahwa sejauh pengalaman itu bersifat egiosentrik namun, pengalaman tersebut haruslah memiliki rujukan empirik yang mampu dijadikan acuan dalam upaya verifikasi terhadap makna yang dikandung dalam pernyataan tersebut. Misalnya saya ingin membuktikan kepada anda betapa cantik pacar saya sekarang ini, walaupun rasa tersebut merupakan sumber relativitas dari sebuah interpretasi, paling tidak saya memiliki acuan empirik untuk membuktikan pernyataan saya itu. Atau paling tidak, saya harus memiliki rujukan empirik untuk membuktikan bahwa pernyataan saya bermakna. Akan tetapi jika saya mengatakan bahwa, betapa cantik pacar saya, yang saya maksud pacar di sini adalah bidadari yang turun dari langit, maka pernyataan saya itu otomatis tidak memiliki rujukan empirik, dengan kata lain saya sedang membual dengan anda, dan ucapan saya omong belaka. Lagi

Pak Imam dan “Kehancuran” Amerika

Ditulis: 17 September 2008

Sekitar tujuh tahun belakangan ini (2001-2008), Amerika Serikat betul-betul dilanda bencana secara bertubi-bertubi. Belum pulih dari kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh suatu bencana, bencana lain muncul dan menimbulkan kerugian yang tak kalah hebatnya. Tampaknya, negeri paman Sam itu, memang sedang di “ambang pintu” “kehancuran”.

Bukan hanya alam yang sedang “menghakimi” Amerika. Apa yang menimpa negara demokrasi terbesar kedua itu, saat ini, sangat sejalan dengan sebuah pepatah kuno, “sudah jatuh ketiban tangga pula”. Bencana yang menghantam negeri Abraham Lincoln tersebut, memang meliputi hampir semua sektor kehidupan. Hanya skala dan dampaknya yang berbeda-beda.

Pada 11 September 2001, Amerika Serikat dihantam oleh serangan teroris yang sangat dahsyat. Serangan itu tak hanya memporak-porandakan gedung gembar WTC. dan menelan korban ribuan jiwa, tapi juga memiliki dampak jangka panjang dan mendalam bagi rakyat dan pemerintah Amerika.

Dengan dalih serangan 11 September itulah, pemerintah Amerika Serikat, di kemudian hari, terlibat dalam peperangan yang berkepanjangan, dan tentu menelan biaya yang sangat besar. Bagi rakyat Amerika sendiri, peristiwa tersebut telah menyisakan trauma yang sangat mendalam.

Gedung kembar WTC. belum selesai dibangun kembali, dan trauma rakyat Amerika belum terobati, seakan tak mau kalah oleh aksi para teroris, alam mengamuk dan meluluhlantakkan New Orleans, Mississippi, Alabama, Florida dan negara-negara bagian lainnya.

Selama hampir satu minggu (23-30 Agustus 2005), penduduk negara-negara bagian tersebut menyaksikan amukan dan keganasan alam; hurricane Katrina (badai Katrina) menghancurkan rumah-rumah mereka, bersama dengan ribuan jiwa yang melayang (1836 jiwa).

Dampak dari bencana yang juga mengakibatkan kerugian materi sekitar 80-an milyar Dollar itu, masih terasa sampai saat ini; pasokan listrik yang belum memadai, pengungsi yang belum semuanya kembali ke tempat asal mereka, dan tentu dampak psikologis yang tak bisa disepelekan. Lagi

Cinta Sejati

Seorang bijak berkata kepadaku, “Anakku, mari kita bicara tentang cinta. Cinta apa yang kau miliki?” Merasa diri ini memang

belum paham apa makna cinta yang sebenarnya, maka aku dengarkan baik-baik setiap hikmah yang menyemburat seperti cahaya.
Anakku, kamu harus membuka hatimu lebar-lebar agar bisa menangkap esensi cinta yang akan aku sampaikan. Simpan pertanyaanmu

nanti, karena setiap pertanyaan itu terlahir dari akal. Seperti langit, akal melayang tinggi di atas bumi tempatmu

berpijak. Dan kau pun akan jauh dari hati pijakanmu, satu-satunya titik yang mampu menangkap esensi cinta.
Lihat batang bunga mawar itu. Dia punya potensi untuk mempersembahkan bunga merah dan harum yang semerbak. Namun jika

batang itu tak pernah ditanam, tak akan pernah mawar itu menghiasi kebunmu. Maka, hanya dengan membuka diri untuk tumbuhnya

akar dan daun lah, batang mawar itu akan melahirkan bunga mawar yang harum. Demikian juga dengan hatimu, anakku. Kau harus

membukanya, agar potensi cinta yang terkandung di dalamnya bisa merekah, lalu menyinari dunia sekitarmu dengan kedamaian.
Anakku, begitu sering kau bicara cinta. Cinta kepada istri, cinta kepada anak, cinta kepada agama, cinta kepada bangsa,

cinta kepada filosofi, cinta kepada rumah, cinta kepada kebenaran, cinta kepada Tuhan… Apakah isi atau esensi dari cintamu

itu? Kau bilang itu cinta suci, cinta sejati, cinta yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, cinta sepenuh hati,

cinta pertama, … Apakah benar begitu, anakku? Lagi

Senyum itu Ibadah

Senyum, itulah sedekah yang selalu saya dapatkan setiap kali bertemu dengannya. Seolah senyum itu tak pernah bosan bertengger di bibirnya. Seakan senyum itu tak pernah redup dari pancaran wajahnya. Ia tampak indah dan memikat. Mampu merasuk ke jiwa dan mengaduk-aduk rasa. Ia bisa membangkitkan kerinduan untuk bersua. Oh, betapa indahnya.

Saya selalu terkenang padanya. Sikapnya yang ramah, tutur kata yang lembut dan sopan, menjadi magnet kuat yang membuat saya ingin selalu dekat dengannya. Beberapa hari tak bertemu ada kerinduan di relung hati untuk bertatap muka walau sekedar melihat senyum itu, sekedar ingin merasakan getaran ketulusan itu.

Saya diam-diam menggelarinya laki-laki mesjid. Seorang laki-laki yang begitu mencintai masjid dengan sepenuh jiwanya. Laki-laki yang kesehariannya lebih suka berada dalam masjid. Sebelum azan berkumandang ia telah melangkah ke mesjid. Setiba di dalam mesjid ia dirikan sunah tahiyyatul mesjid lalu duduk membaca al-Quran. Begitulah setiap harinya.

Saya seringkali kalah dengan laki-laki itu, terkadang saya menjadi malu padanya. Selalu saja ketika tiba di mesjid ia tengah shalat sunnah atau membaca al-Qur`an di shaf pertama. Jika saya beralasan keterlambatan saya karena sudah berkeluarga dan punya anak, iapun juga sudah berkeluarga dan sebentar lagi akan punya anak. Saya jadi teringat kisah perlombaan Umar Ra. dan Abu Bakar Ra. dalam kebaikan, dimana dalam setiap kesempatan Abu Bakar Ra. selalu mengungguli Umar. Abu Bakar selalu bergerak lebih cepat dan awal dari Umar.
Lagi

Previous Older Entries